PORODISA MAKES YOU FEEL HOME
Selamat datang di PORODISA.

Silahkan Login untuk masuk

Proses Pembuatan Film Layar Lebar

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Proses Pembuatan Film Layar Lebar

Post by Kaum Miskin on Thu Feb 28, 2013 5:31 am

Film adalah gambar bergerak, yang dalam bahasa inggris disebut motion picture adalah serangkaian gambar-gambar yang diproyeksikan pada sebuah layar agar tercipta ilusi (tipuan) gerak yang hidup. Motion picture yang disebut juga movie, film atau sinema adalah salah satu bentuk hiburan yang populer, yang menjadikan manusia melarutkan diri mereka dalam sebuah dunia imajinasi dalam waktu tertentu. Akan tetapi, movie juga mengajarkan manusia tentang sejarah, ilmu pengetahuan, tingkah laku manusia dan berbagai macam hal lainnya. Beberapa film mengkombinasikan hiburan dan pendidikan, agar proses belajar menjadi lebih mudah dan nyaman. Dalam semua bentuknya, sinema adalah sebuah seni yang indah sebagaimana bisnis, dan para pembuatnya akan memperoleh kebanggaan tinggi tersendiri akan hasil kreasi mereka. Gambar-gambar dari sebuah film sebenarnya adalah gambar-gambar foto yang terpisah-pisah. Ketika gambar – gambar tersebut tampil cepat secara berurutan, mata manusia tidak dapat membedakan bahwa sebenarnya gambar-gambar itu terpisah-pisah. Ini adalah hasil dari apa yang dinamakan persistence of vision (penglihatan yang berkesinambungan), sebuah fenomena di mana mata menahan sebuah gambar visual dari kilasan per satu detik setelah gambar tersebut teralihkan. Meski kita tidak merasakan bahwa gambar tersebut adalah foto yang terpisah-pisah, kita tetap melihat adanya perbedaan di antara gambar-gambar tersebut. Dan otak kita menerima perbedaan ini sebagai sebuah gerak yang hidup.Film direkam menggunakan kamera yang didisain khusus untuk menangkap gambar pada sebuah rol film. Setelah diproses dan dicetak, film kemudian diputar melalui sebuah proyektor, di mana sebuah sinar menyorotnya dan gambar ditampilkan pada layar. Film, sebagian besar juga disertai oleh adanya suara.
JENIS FILM

Ada beberapa jenis film, di antaranya yang populer adalah film feature, film animasi,film dokumenter, film eksperimen, film industri dan film pendidikan.Film feature adalah film yang umum di tayangkan di bioskop-bioskop. Film jenis inibiasanya memiliki durasi kurang lebih satu atau satu setengah jam dan menceritakan kisah fiksi (khayalan) atau kisah yang berdasar pada hal nyata tetapi dimainkan /diperankan oleh seorang aktor. Daftar film feature yang populer akan sangat panjang untuk ditulis di sini, tetapi di antaranya ialah The Birth of a Nation (1914), Metropolis (1926), Citizen Kane (1941), Casablanca (1942), On the Waterfront (1954), The Sound of Music (1965), The Godfather (1972), Star Wars (1977), Gandhi (1982), Jurassic Park (1993), dan Titanic (1997). Film animasi sejenis dengan film feature, perbedaannya ialah film animasi menggunakan gambar-gambar yang dibuat oleh para ahli seni. Film jenis ini membuat ilusi gerak hidup dari rangkaian gambar dua dimensi, objek-objek tiga dimensi, atau gambar-gambar olahan komputer. Film feature animasi pertama adalah film Jerman Die Abenteuer des Prinzen Achmed (Petualangan Pangeran Achmad, 1926). Yang lainnya adalah Snow White and the Seven Dwarfs (1937), Dumbo (1941), Sleeping Beauty (1959), Yellow Submarine (1968), Heavy Traffic (1973), film Chechnya Neco z Alenky (Alice, 1988), film Jepang Majo no Takkyubin (Layan Antar Kiki, 1989), Beauty and the Beast (1991), dan The Lion King (1994). Pada beberapa film, karakter /tokoh animasi berkolaborasi dengan aktor-aktor manusia, seperti dalam Who Framed Roger Rabbit (1988). Jenis yang film lain ialah film dokumenter, dimana berkenaan dengan kenyataan, bukan rekaan. Film dokumenter jarang ditayangkan di bioskop-bioskop, film jenis ini lebih sering ditayangkan di televisi kabel atau siaran televisi pada umumnya. Beberapa yang terkenal di antaranya ialah Nanook of the North (1922), The Silent World (1956), Harlan County, U.S.A. (1976), Eyes on the Prize (1987), dan Hoop Dreams (1994). Film eksperimen ialah serangkaian gambar-gambar, faktual atau abstrak, dan tidak berbentuk cerita/narasi. Sebuah film eksperimen bisa berbentuk animasi, adegan langsung, olahan komputer atau kombinasi dari ketiganya. Lima film eksperimen yang pantas dihargai ialah film perancis Un Chien Andalou (Seekor Anjing Andalusia, 1929), Meshes of the Afternoon (1943), A Movie (1958), Eraserhead (1978), dan Privilege (1991). Film industri (film komersil) dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang ingin mempublikasikan produk atau menciptakan image masyarakat sesuai selera mereka. Film pendidikan dikhususkan untuk ditayangkan di sekolah-sekolah. Tujuannya ialah untuk menjelaskan /menggambarkan sesuatu hal dari mulai sejarah hingga ketrampilan mengemudi.
PARA PEMBUAT FILM

Ada banyak orang dari berbagai profesi yang berbeda yang mengkontribusikan kemampuan dan bakat mereka dalam pembuatan film. Para bintang dan aktor-aktor lainnya yang tampil di layar hanya sebagian dari proses itu; kebanyakan dari mereka yang terlibat dalam pembuatan film tidak tampil di kamera. Secara umum beberapa profesi yang ada di belakang layar antara lain: produser, penulis naskah, sutradara, manajer unit produksi, bagian casting, bagian fotografi, perancang kostum, assisten sutradara, editor film dan suara, dan penata musik. Karena setiap film adalah sebuah proyek yang unik, profesi kerja nya bisa saja saling tumpang tindih dan bervariasi tergantung pada masing-masing orangnya.
Produser Produser bertanggung jawab atas proses ide film hingga menjadi sebuah movie yang sukses. Seorang produser mesti menyediakan dana untuk biaya produksi, mengaji para aktor dan tim produksi, melakukan supervisi terhadap proses produksi, dan mengatur distribusi film hingga diputar di layar lebar. Jika seorang produser telah memperoleh pendanaan dari studio atau dari suatu distributor, maka lembaga itu bisa menginginkan kehadirannya selama proses produksi. Orang ini disebut sebagai eksekutif produser. Dan, setiap orang yang berpartisipasi dengan berbagai cara pada movie, entah itu dengan waktu, uang, atau campur tangannya maka ia akan mendapatkan penghargaan dari asosiasi produser atau semacamnya.
Penulis Naskah/Skenario Para penulis naskah membuat ide-ide untuk film atau mengadaptasi sebuah karya seni menjadi sebuah film layar lebar. Adaptasi bisa didapat dari novel, drama, opera atau sumber lainnya. Penulis naskah bekerja dalam 2 cara. Mereka bisa dikomisikan dalam menulis sebuah naskah atau mereka dapat pula menulis sebuah naskah secara on spec (singkatan dari spekulasi), yang artinya penulis naskah mengharapkan seseorang yang akan menyukai naskah yang ditulisnya sendiri membeli cukup membeli hak ciptanya dan menyusunya untuk diproduksi. Begitu skenario telah terbeli, produser bisa memutuskan untuk menulis ulang pada penulisnya atau pada penuli baru. Langkah pertama dalam penulisan skenario adalah membuat sebuah outline, yang mana merupakan satu (atau dua) halaman penjelas dari adegan atau dari plot. Hal ini diikuti oleh treatment, yang merupakan sebuah penjelasan detail dari sebuah film, yang berisi beberapa arahan/cara dialog dengan seluruh skene yang diuraikan dan subplot yang telah dibuat. Kemudian penulis naskah mulai menulisnya sendiri, mengisi keseluruhan detail tersebut. Penulisan naskah mengatur munculnya saat dan tempat adegan, menjelaskan penampilan fisik tokoh, menyediakan seluruh dialog dan adegan. Skenario juga menjelaskan tempat kamera diposisikan dan gerakan kamera yang harus dilakukan selama proses syuting. Skenario menunjukan transisi /perpindahan peralatan (kamera) antar adegan seperti dissolves (sebuah gambar perlahan menimpa gambar lainnya), fade-ins (suatu gambar perlahan menimpa layar kosong), fade-out (layar kosong perlahan menimpa suatu gambar) dan cut (pemotongan) langsung dari satu adegan ke adegan berikutnya.
Sutradara/Director Seorang sutradara bertugas menganalisa skenario, memvisualisasi penampilan film, mengarahkan para aktor dan kru produksi dalam pekerjaannya. Banyak orang menyangka bahwa sutradara adalah orang yang mengkontrol seluruh aspect pembuatan film, sesungguhnya pekerjaan seorang sutradara tidak seluas itu. Bahkan sebuah film adalah proyek kerja sama antara sutradara, produser, para aktor, dan anggota kru. Seorang sutradara yang baik selalu menyesuaikan ide-idenya dengan orang lain agar proses pembuatan film berjalanlancar, sementara seluruh waktu yang tersisa sebaik mungkin dimanfaatkan sesuai visi awalnya. Selama proses produksi, beberapa faktor dapat mempengaruhi bagaimana munculnya sudut pandang film seorang sutradara. Jika negoisasi dengan seorang aktor gagal, maka aktor yang lain harus segera dicari untuk meneruskannya. Jika sebagian besar adegan film banyak menggunakan studio alam dan cuaca tidak mendukung, maka setting harus dirubah. Ditambah lagi, jika seorang aktor utama atau seorang kru film berbeda dalam menafsirkan satu dengan sutradara, maka sutradara boleh saja menerimanya. Idealnya, produser dan sutradara berbagi pandangan tentang film yang akan dibuat dan berkompromi bagaimana memprosesnya. (jika mereka tidak sependapat, sutradara bisa dipecat dari proyek tersebut.) Ketika film telah siap untuk diedit, sutradara melakukan supervisi untuk first cut / potongan pertama (istilah untuk film yang teredit). Setelah itu, jika mau, produser bisa turun tangan dan mengedit ulang film. Beberapa sutradara memiliki hak untuk menyetujui cut final sebuah film.
Manager Produksi Unit production manager (UPM), atau manajer produksi adalah seseorang yang membuat report (laporan) kepada produser, bertanggung jawab atas pen schedul-an, penganggaran dana, memilih beberapa anggota kru, dan mengurus perizinan terhadap pemilik lokasi syuting yang berada di luar studio. Seorang UPM juga menangani pembelian peralatan dan pelayanan, memegang urusan harian dari jalannya kantor produksi, dan memastikan bahwa proyek tetap berjalan sesuai dengan anggaran yang ada.
Pengarah Casting Casting director bertugas memilih para aktor dan menegosiasikan kontrak selama para aktor tersebut bekerja, meskipun akhirnya – umumnya ketika memilih para bintang untuk pengarahan – biasanya berada di tangan sutradara atau produser. Ketika memilih aktor untuk bermain pada sebuah film, seorang casting director memiliki beberapa kriteria, seperti kesesuaian aktor dengan aturan main pada film tersebut, penampilan yang box office, kemampuan akting dan pengalaman.
Para Aktor Aktor bertugas memainkan peran pada sebuah film. Untuk membuat karakter yang meyakinkan, mereka mempelajari detailnya pada naskah, pandangan sutradara, dan insting mereka sendiri ketika memainkannya. Dalam kebanyakan film, pekerjaan seorang aktor adalah memuat para penonton percaya bahwa tokoh yang dimainkan adalah orang yang sebenarnya yang berbicara tanpa ada rekayasa dan alami. Seorang aktor akan menggunakan suara, gerakan, dan emosinya untuk dapat membuat hal seperti itu. Tetapi kualitas seni lainnya juga mempengaruhi penilaian penonton. Kualitas-kualitas tersebut sangat sulit untuk dijelaskan, tetapi di antarnya ialah, kewibawaan, perasaan yang mendalam, orisinalitas, faktor ke-logis-an dan penampilan fisik. Berakting adalah seni yang komplek. Kehlian proyeksi suara, bermacam cara bicara, gerakan tubuh, gerak, dan kemampuan lain hanyalah bagian dari tekhniknya. Kemampuan dasar lainnya termasuk kemampuan menghafal baris dialog, membangun tepatnya suasana waktu, ekspresi status sosial tokoh, umur dan temperamentnya.
Stunt (peran pengganti)
Banyak film yang menyertakan adegan beresiko celaka. Adegan ini misalnya dramatiknya meloncati jurang, atau kejadian lumrah berguling dan menggelinding. Selama adegan yang dapat membawa celaka, para peran pengganti yang terlatih secara khusus akan menggantikan sang aktor. Perlu diyakinkan juga bahwa aktor pengganti diarahkan seaman mungkin dan tidak mengalami musibah. Akan tetapi, ada beberapa bintang film, seperti aktor Cina Jackie Chan, tetap melakukan sendiri adegan-adegan berbahaya.
Aktor dari Dunia Hewan Untuk adegan di mana hewan harus melakukannya, hewan aktor yang terlatih khusus akan muncul. Binatang-binatang ini mematuhi perintah dari pelatih mereka ketika bermain film. Dalam beberepa kasus, banyak hewan tampil untuk bagian adegan yang sama, hal ini dikarenakan lamanya proses pembuatan film atau dikarenakan sang hewan tumbuh besar atau berubah penampilannya atau hal-hal lain selama schedul pemfilman. Para hewan yang berakting beraneka ragam mulai dari bebek hingga gajah. Beberapa film yang dibintangi aktor dari dunia hewan di antaranya anjing Lassie (dalam Lassie Come Home, 1943), anjing Benji (dalam Benji, 1974), dan babi Babe (dalam Babe, 1995).
Pengarah Fotografi Director of photography (DP) atu diterjemahkan sebagai pengarah fotografi disebut juga sebagai sinematografer, bekerja di secara tertutup dengan sutradara dan memahami adegan dalam kondisi-kondisi pencahayaan, shading, komposisi, dan gerakan kamera. Tanggung jawab adalah memilih jenis lensa yang digunakan untuk syuting, hal ini mempengaruhi hasil gambar yang dibuat, dan mengatur posisi dan sudut kamera. Seorang Pengarah Fotografi jarang mengoperasikan kamera secara langsung, fungsi ini berada di tangan seorang operator kamera.
Desainer Seorang desainer pada produksi film, sering juga disebut pengarah seni, adalah seseorang yang bertanggung jawab atas pengaturan desain dan penampilan film. Di beberapa film, mengatur setting adalah pekerjaan yang mengasyikan. Sebagai contoh, sebuah film koboy yang realistik akan menyewa konstruksi pemandangan jalan raya, termasuk interior sebuah salon, hotel dan bangunan-bangunan lainnya. Kostum yang dipakai para aktor juga mempengaruhi penampilan film, maka desainer kostum adalah seorang juru kunci dari team produksi. Kostum desainer mendesain sendiri kostum yang sesuai atau mencarinya di pusat belanja atau rumah desain. Desainer tambahan biasanya berkenaan dengan pencahayaan, make-up, dan aspek sual produksi lainnya.
Assisten Sutradara Kebanyakan film memiliki sekurang-kurangnya satu asisten sutradara. Seorang asisten sutradara mendampingi sutradara hampir di setiap pekerjaanya. Asisten sutradara pada level tertinggi disebut asisten 1, memiliki beberapa kewajiban. Ia membuat keseluruhan jadwal syuting, di antaranya membuat daftar harian proses pemfilman per adegan, dan me-manage masalah yang timbul tiap harinya dalam proses produksi. Setiap hari asistent sutradara juga mengusulkan lembar panggilan kerja berikutnya (yaitu jadwal untuk para aktor dan kru) kepada manajer produksi dan sutradara untuk mendapat persetujuan. Serta asistent 1 yang bekerja dengan sutradara selama proses syuting, mendampingi dalam persiapan tiap adegan. Asisten 2 mendampingi asisten 1 dengan memposisikan para kru dan aktor pada tempat semestinya, mencari para figuran, dan memperhatikan detail-detail yang termasuk dalam persiapan pemfilman pada keesokan harinya.
Editor Film dan Suara Gambar bergerak difilmkan dalam ratusan shot (proses pengambilan gambar), yang harus di susun menjadi produk final yang sesuai dengan keinginan sutradara dan produser. Tanggung jawab ini jatuh ke tangan editor. Editor pertama kali memonitor hari-hari kerja sutradara dan para krunya dalam proses syuting (dalam bahasa inggris disebut dailies atau rushes). Persiapan berhari-hari itu berlangsung selama proses produksi, yang berarti bahwa film sedang diedit pada saat yang sama ketika dishot. Pengawasan harian ini memugkinkan sang sutradara dan produser memilih shots yang terbaik dan memutuskan jika mereka membutuhkan shot ulang beberapa adegan karena alasan seni atau teknis. Setelah proses pengambilan gambar dasar telah dibuat, editor menyelesaikan editing film dan melakukan supervisi pada effek-effek optik (seperti frame-freeze) dan membubuhkan judul ke dalam film. Sutradara, produser atau editor juga bisa saja menganggap bahwa bagian tertentu memiliki kualitas suara yang kurang bagus. Kemudian seorang editor suara merekam ulang suara para aktor pada adegan ini. Sang aktor mengucapkan dialog di studio sambil melihat screen demi screen dalam proses yang disebut automatic dialogue replacement (ADR) atau penggantian dialog otomatis. Editor suara juga menambahkan effek suara untuk melengkapi suasana film. Misalnya jika adegan mengambil tempat di jalanan suatu kota, editor akan menambahkan suara ribut klakson atau suara ribut lalu lintas lainnya yang sesuai. Salah satu langkah final dalam proses editing adalah persiapan dan pengggabungan trak suara yang terpisah di mana seluruh suara itu-, dialog, musik, dan suara effek,-digabung bersama untuk membuat satu kesatuan suara yang pas bagi penonton.
Penata Musik Komposer atau penata musik bekerja bersama sutradara dan editor untuk membuat sebuah nilai musikal yang mendukung transisi antar screen dan sebuah tampilan point emosional screen secara keseluruhan. Musik seringkali digunakan untuk mempercantik effek dramatis. Sebagai contoh, musik dapat menenggarai seseorang sebagai seseorang yang dicurigai ketika tidak ada sesuatupun yang terlihat di layar untuk menuduh sebuah karakter.
Posisi lainnya Sebagai tambahan daftar di atas, banyak orang-orang lain yang mengambl bagian dalam produksi sebuah film. Foley membantu menbuat latar belakang atau suara ribut tambahan seperti langkah kaki. Seorang gaffer memsupervisi bidang kelistrikan dan didampingi oelh seorang best boy. Key grip memsupervisi grips, seseorang yang mengatur dan menyesuaikan pengaturan peralatan kerja. production sound mixer melakukan supervisi perekaman suara selama proses syuting, dan seorang sound mixer menggabungkan semua suara untuk track final dengan mengatur volumenya, menambahkan fade in dan fade out untuk effek ribut, dan membuat effek audio tambahan yang diperlukan. Tergantung pada dana dan genrenya, sebuah film bisa saja membutuhkan anyak professional lainnya, termasuk para asisten, tukang kayu, sopir, pelatih adab /etika, konsultan sejarah, kooedinator perumahan, tenaga medis dan lain sebagainya.
PROSES SYUTING SEBUAH FILM

Kebanyakan film memilki proses umum yang sama. Begian ini menjelaskan proses pemfilman ini dan kemudian membahas beberapa aspej tejnis pemfilman lainnya.
Proses Umum Pembuatan Film Pembuatan stage mengawali proses produksi sebuah film. Dalam stage ini, sang penulis naskah menulis skenario dan produser mengkontrak sutradara serta pemain utama, menyiapkan pendanaan dan jadwal syuting, serta mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk membayar ongkos produksi. Tahap selanjutnya adalah pra-produksi, termasuk persiapan kerja yang tersisa sebelum produksi dimulai. Selama masa pra-produksi, produser akan merekomendasi versi final skenario, para pemain dan kru dikontrak, dan lokasi syuting diselesaikan. Sutradara, asisten sutradara, manajer produksi, dan produser merancang urutan syuting tiap-tiap adegan. Jika memungkinkan para aktor melakukan gladi resik. Produser, sutradara, dan desainer bekerja bersama mengikhtisarkan tampilan film – bagaimana adegan dilakukan, memasang konstruksi dan dekorasi, kostum-kostum, makeup dan tata rambut, dan tata lampu (pencahayaan). Ketika pra-produksi selesai, proses produksi bisa dimulai. Sebuah film, diambil gambar secara adegan per adegan, dan adegan diambil gambar secara shot demi shot. Adegan-adegan dan shot-shot ini yang di filmkan ini tidak selalu muncul di film. Hal ini dikarenakan film tergantung berbagai faktor misalnya kondisi cuaca, kesediaan aktor, dan jadwal setting konstruksi. Adegan yang termasuk luas, setting yang rumit seringkali difilmkan pada akhir jadwal syuting, karena bagian ini mengambil waktu lamam untuk menyelesaikannya. Setting bisa diperinci. Dalam film Titanic, misalnya, para pembuat film membangun ruang interior yang sangat besar seperti tangga utama dan salon restoran lebih dari 19 juta liter tangki air. Setting ini didukung oleh sistem hidrolik yng menurunkan air secara simulasi untuk menenggelamkan kapal. Persiapan untuk syuting film memiliki lima proses kerja: department seni dan master properti mempersiapkan setting perabotan dan sebagainya yang akan digunakan para aktor; para aktor menghafalkan dialog dan gerakan badan sesuai skenario: pengarah fotografer memilih dan mengatur lampu: operator kamera menyesuaikan sudut dan gerakan lensa yang akan digunakan dalam syuting: dan kru suara mengatur suara danpenempatan mikropon. Sang sutradara mengamati dan mengkoordinasi semua aktivitas tersebut. Setiap film yang telah di-syut (diambil gambarnya) dinamakan take (pengambilan). Untuk syuting yang variatif seperti adegan pertempuran, sutradara biasanya menggunakan banyak kamera untuk mengurangi banyaknya take tersebut. Meskipun menggunakan banyak kamera, sutradara bisa saja membutuhkan banyak take untuk hasil yang maksimal. Setelah masing masing take selesai, sutradara akan mendiskusikannya dengan operator kamera dan production sound mixer (orang yang bertugas menkombinasikan suara dalam proses produksi). Jika sutradara berkenan dengan hasilnya dan jika kamera dan suara berjalan baik, sutradara akan menyuruh agar hasil take tersebut diprint. Jika hsil take tidak sesuai keinginannya, maka tidak akan diprint. Dalam produksi ber budget (dana) tinggi yang memiliki adegan yang bervariatif, maka pantasnya film akan dibuat dalam satu master shot yang panjang, yang akan memasukan seluruh adegan utama. Cover shot adalah shot yang jernih yang diedit ke dalam master shot, membubuhkan fek dramatic yang semestinya pada adegan dan mendetailkan dari setiap gerak adegan ke gerak adegan. Cover shots meliputi close-up (pengambilan gambar jarak dekat), medium shot, long shot, tracking shot (shot di mana kamera bergerak ketika proses pemfilman). Syuting shot-shot seperti itu disebut shooting cooverage. Masing-masing pengambilan gambar, meskipun sebentar, tetap membutuhkan pemasangan baru kamera dan penempatan baru lampu, mikropon dan para aktor. Adegan dari satu shot ke shot lainnya harus selaras ketika diedit ke dalam bentuk film. Misalnya, ketika heroin dalam gelas telah diatur berada di tangan kiri dalam master shot, maka dalam shot close-up aktor tidakl boleh mengalihkannya ke tangan kanan. Di akhir waktu syuting, hasil shot yang dikehendaki sutradara akan diprint. Di hari selanjutnya, sutradara, produser, pengarah foto dan editor akan mencermati gambar-gambar tersebut berhari-hari. Selama proses pekerjaan ini, sutradara dan editor mulai menyusun shot-shot menjadi sebuah adegan, dan menyusun adegan-adegan menjadi sebuah rangkaian. Versi awal rangkaian tersebut, atau disebut cut awal, sering kali berisi take-take alternatif untuk shot-shot yang sudah siap jadi. Ketika sutradara dan editor membuat keputusan final selama proses editing, mereka menyisihkan take-take yang tidak sesuai, sehingga struktur gambar akhirnya akan muncul dalam bentuk sebuah rough cut (cut kasar). Kemudian, ketika adegan dipoles dan diperhalus transisi (perpindahan antar adegan) nya, secara perlahan rough cut tersebut menjadi first cut (cut pertama). Selama proses kerja postproduksi, sutradara dan editor biasanya akan membicarakan beberapa problem dan mencari solusinya. Misalnya, jika salah satu shot yang diambil secara close-up bergeser jauh beberapa saat dari fokus, mereka akan menutupinya dengan cara memotongnya sedikit jika tidak memiliki take close-up lainnya yang baik. Ketika melakukan editing pada cut awal, sutradara akan mempertimbangkan rekomendasi produser, akan tetapi tetap berusaha menyesuaikan keinginannya terhadap keseluruhan gambar. Produser biasanya ikut campur tangan, khususnya jika sutradara dan editor menetapkan akan melakukan syuting ulang; dikarenakan hal ini akan film menelan biaya lebih dari anggaran. Jika seluruh adegan yang di-shot dan cut awal telah terselesaikan, produser biasanya akan menyetujuinya atau produser akan ikut terjun bersama editor dan atau sutradara untuk membuat perapihan dan memperbagus film. Hasil produksi akhir adalah disebut cut final. Film kemudian siap untuk masuk ke proses sound editing, proses final arrasement music dan mixing.
Aspek Teknis Pembuatan Film Aspek-aspek teknis proses pmbuatan film meliputi pengoperasian kamera, pencahayaan adegan, dan perekaman suara. Begitu film telah di-shot, harus segera diproses dan diprint. Selama proses ini atau setelahnya effek khusus bisa ditambahkan ke dalam film untuk membuat tampilan gambar yang dramatis. Langkah akhir produksi movie berlangsung di sebuah laboratorium film, tempat element visual dan suara dari cut akhir dikombinasikan menjadi sebuah composite print (hasil cetak yang terangkai). Ketika rangkaian print ini berputar pada sebuah proyektor tujuan dari tim pembuat film adalah tampilnya adegan dan suara yang bersamaan di pandangan penonton.
Kamera Film Gambar memperincikan susunan kamera film. Kamera film bekerja pada dasarnya sama dengan kamera umum yang digunakan untuk memotret. Perbedaannya, kamera film mengambil dalam jumlah yang banyak dalam rangkaian yang cepat dan membutuhkan film yang lebih panjang dan membutuhkan rol yang lebih besar untuk menyimpan film dan sebuah emkanik yang telah diseduaikan khusus untuk pensuplaian film yang melaluinya. Proses fotografi di mana film diekspos ke cahaya untuk menciptakan sebuah gambar yang sesuai dengan foto pada umumnya. Lensa-lensa kamera yang berbeda-beda panjang fokusnya digunakan sesuai kebutuhan untuk memperoleh sudut pandang atau effek fotografi yang diinginkan, dan merubah pembukaan lensa (lens aperture) akan menontrol banyaknya cahaya yang ditangkap film. Shutter speed (kecepatan menutup), menentukan berapa lama film diexpos pada cahaya, dan pembukaan yang bersamaan mengakibatkan pencahayaan yang relatif atau kegelapan gambar. Bagian yang paling penting dari kamera film ialah lensa, shutter (penutu), dan dua rel yang mensuplai film dan menggulungnya kembali. Ketika kamera film dioperasikan shutter atau penutupnya akan membuka dan mengekspos film yang akan menangkap gambar dan membentuknya dengan lensa. Shutter kemudian akan menutup dan sebuah proses mekanik yang disebut pull-down claw atau (kuku yang mengait) akan menggerakan film sepanjang bisa diexpos kembali. Pada pengoperasian yang normal siklus ini berlangsung 24 kali per detik, dan membuat 24 gambar foto yang terpisah-pisah. Dengan mengoperasikan kamera pada kecepatan yang lebih cepat atau lebih lambat dari 24 frame per detik, tampilan waktu film dapat diperpanjang atau diperpendek. Sebagai contoh, pemfilman pada sebuah adegan berkecepatan 72 frame per detik, tetapi memproyeksikannya 24 framem per detik, akan memperlambat adegan sehingga apa yang terjadi dalam satu detik akan menjadi tiga detik pada layar. Pengoperasian kamera pada kecepatan frame lambat akan menghasilkan effek yang berlawanan dan bermanfaat untuk menayangkan proses tampilan lambat, seperti tumbuhnya sebuah tanaman. Ketika tumbuhnya tanaman difilmkam dalam satu frame setiap tiga jam dan film diproyeksikan pada kecepatan 24 framem per detik, 72 jam pertumbuhan akan ditekan menjadi perdetik, dan pada film tumbuhan akan muncul bersemi dari bumi. Kestabilan gambar rekaman kamera berasal dari bantalan kamera dan sebuah alat pada motor kamera yang disebut registration pin, yang memegang setiap gambar frame ketika diekspos pada cahaya. Kaki tiga yang berdiri disebut tripod juga menyangga kamera, dan sebuah papan pada roda yang disebut dolly menggendalikan kestabilan kamera ketika bergerak menyeberangi lantai atau tanah. Sebuah derek atau lengan penyangga yang disebut boom menaikan dan menurnkan kamera selama pemfilman. Sebuah steadycam adalah bantalan kamera untuk menghasilkan shot yang lembut pada tempat di mana penggunaan dolly atau derek sangat sulit, seperti ketika mengambil adegan pada anak tangga. Steadycam menggunakan gyroscope dan alat elektronik canggih lainnya untuk menghindarkan kamera dari berguncang. Ketika pembuat film tidak menghendaki kamera stabil, mudah saja, operator kamera meletakan kamera pada lengannya. Tekhnik ini digunakan dalam film-film dokumenter untuk menangkap kejadian yang bergerak secara cepat atau dalam feature film untuk membuat adegan seolah-olah seperti dokumenter.
Tata Cahaya pada Adegan Sebuah adegan dapat dishot dalam studio atau pada sebuah lokasi (on-location), yang berarti bahwa film dishot disbuah tempat yang tidak memiliki konstruksi khusus untuk film. Dua jenis sumber pencahayaan digunakan pada syuting interior, baik itu dalam studio atau pada on-location. Incandescent lamps, yang memiliki daya sekitar beberapa watts hingga 10.000 watt, menyerupai bola lampu rumah pada umumnya dan digunakan dalam proses pemfilman. Arc lamps adalah lampu yang lebih kuat dari Incandescent lamps, menyinari lebih luas dan menyorotkan langsung cahayanya. Lampu-lampu ini digunakan ketika kru harus memberikan pencahayaan kepada area yang luas atau ketika adegan membutuhkan pencahayaan yang terang. Kebanyakan lokasi syuting berada di luar ruangan (studio alam), di mana cuaca yang tak tidak bisa diprakirakan membuat pencahayaan mengalami kesulitan. Meski pada siang hari, kru film tetap menggunakan cahaya dan reflektor (cermin pemantul untuk menguatkan cahaya) untuk memperkuat terangnya pencahayaan pada adegan atau untuk menerangi area gelap atau untuk menciptakan bayangan. Ketika kondisi syuting di studio alam terlalu terang, kru film menggunakan alat seperti butterflies, bahan lebar dari sutra atau bahan yang bersifat memendarkan cahaya, untuk mengurangi terangnya cahaya matahari atau untukmenciptakan bayangan. Kadangkala seorang sutradara memilih menggunakan day-for-night shooting, dimana sebuah adegan di-syut pada waktu siang tetapi dibuat seolah-olah terjadi pada waktu malam hari. Untuk membuat effek ini, kru film harus memanipulasi banyaknya cahaya yang mengenai film. Metode mereka meliputi penempatan subjek pada tempat yang teduh, memposisikan kamera sehingga tidak men-syut ke arah langit, dan memilih jenis filter khusus untuk ditempatkan pada lensa.
Perekaman Suara Dalam pembuatan film, suara diambil melalui mikrofon dan direkam menggunakan pita kaset. Ketika syuting boom (penyyangga mikropon) menyangga mikrofon di atas para aktor jauh dari tempat kamera sehingga tidak muncul di layar. Jika memungkinkan, perekaman orisinil hanya memasukan dialognya saja sebab suara tambahan dapat mengacaukan dialog. Kadang, syuting di studio alam menghasilkan banyak suara berisik, hasil rekam beberapa dialog tidak sesuai. Dalam kasus ini, para aktor nantinya merekam dialog penggantinya, dan garis dialog mereka disesuaikan dengan gambar. Selama post produksi, para ahli tata suara membuat suara-suara khusus, seperti gemuruh kereta api atau dentingan barang barang logam atau barang-brang pecah belah ketika adegan makan malam. Sebuah sound track suara yang sempurna dibuat dari trak-trak yang direkam secara terpisah-pisah. Dialog berada pada beberapa trak, musik pada trak lainnya dan suara effek pada yang lain. Sebagian besar, produksi yang rumit seperti musikal (film yang sebagian besar berisi musik) memiliki 30 lebih track suara yang terpisah. Para insinyur suara mengkombinasikan, atau melakukan miksing, pada trak-trak yang terpisah masing-masing itu secara elektronis dalam studio rekaman sambil melihat cut akhir film.
Bahan Film Bahan film dibuat dari ribbon panjang dan ditempatkan dan digulung pada roll (roda putaran). Pembuatan lubang-lubang pada sisi film membantu menggerakannya melalui kamera, printer dan proyektor pada kecepatan yang tetap, yaitu 24 frame per detik. Ketika trak suara dikombinasikan dan visual effek disempurnakan, gambar dan suara diprint (dicetak) pada satu lembar film dan diputar di bioskop. Yang terbesar lebar sebuah strip film, yang tertajam di mana gambar di proyeksikan ke layar. Standar lebar film digunakan untuk movie berjenis feature berdurasi panjang adalah 35 mm (1.38 in). sebuah produsksi sekala besar pada umunya terbit pada film berlebar 70-milimeter (2.76-in), sementara movie berbiaya rendah dan beberapa film berjenis eksperimen biasanya di-syut pada film 16-milimeter (0.63-in) yang tidak lebih mahal. (saat ini, para pembuat film men-syut sebagian besar movie dokumenter dan beberapa movie eksperimen pada kaset video digital karena kualitasnya lebih baik dari pada film, lebih murah serta tidak memerlukan proses.) Film itu sendiri terdiri atas sebuah lapisan tipis bahan peka cahaya yang disebut emulsion (emulsi atau larutan), berlapiskan bahan baku selulosa transparan yang fleksibel (mudah dilekak-lekuk). Emulsi pada umumnya berisi bromida perak yang diseimbangkan dalam gelatin (jel/ materi seperti agar-agar). Emulsi warna film terdiri atar tiga lapis, masing-masing berisi bromida perak di sekitar suatu bahan kimia kering yang sensitif ke satu warna – merah, hijau atau biru. Selama pemrosesan gambar terbentuk pada tiga lapisan yang berkombinasi agar menghasilkan gambar tunggal pada film. Rol film yang dieskspos melewati serangkaian penggulung dan melalui suatu larutan pencuci, pencucian, bak pemberihan, pencucian kedua, dan ruang pengeringan. Pada akhirnya, film yang telah tercuci dan kering tersebut digulung kembali pada rol. (kaset video sebaliknya, tidak membutuhkan pemrosesan. Kamera video merekam suara dan gambar secara elektronik ke pita magnetik yang dapat diputar ulang secara langsung.) Ketika larutan diekspos ke cahaya, sebuah gambar terpendam terbentuk. Selama pemrosesan, pelarut merubah halide perak dalam larutan menjadi perak metalik dimana cahaya menyentuh larutan. Pada langkah pemrosesan berikutnya, kristal halide perak yang tidak ter-ekspos dibersihkan dari larutan dengan cairan kimia yang disebut hypo atau fixer. Yang terjadi, perak metalik, bentuk gambar negatif dari subjek – paling gelap di mana sebagian besar cahaya membentur larutan, dan paling terang dimana cahaya paling sedikit membentur. Cara membuat gambar positif, cahaya dilewatkan melalui negativ untuk mengekspos rol film lainnya. Dimana negativ paling tebal, secercah cahaya membentur film. Dalam pemrosesan film yang telah diprint, halides perak tak ter-ekspos yang telah dibuang, meninggalkan kebalikan gambar negativ – suatu larutan tipis pada hasil print dimana gambar negativ tebal. Hal ini menyesuaikan area cahaya dari subjeknya. Di mana subjek yang gelap, gambar negativ tipis dan film yang diprint tebal.
Spesial Effek Tampilan Spesial Effek telah dimasukan pada film/ movie semenjak awal munculnya film. Sutradara Perancis, Georges Méliès dianggap sebagai pendahulu yang sangat berperan pada spesial effek. Filmya A Trip to the Moon (1902) mengkombinasikan adegan langsung dengan animasi, menunjukan kepada penonton bahwa sinema bisa menciptakan dunia, berbagai benda, dan kejadian yang sebenarnya tidak ada pada kehidupan nyata. Tekhnologi film tiga dimensi (3-D) telah dikembangkan pada awal tahun 1920-an akan tetapi tidak populer hingga tahun 1950-an, ketika dinikmati beberapa waktu saja. Meskipun film, seperti foto biasa, normalnya memberikan gambar dua dimensi, tipuan dimensi ketiga dapat diperoleh denagn memproyeksikan dua movie yang terpisah – satu untuk mata kanan, yang lain untuk mata kiri – pada layar khusus. Maka para penonton yang mengenakan akcamata tiga dimensi, mata kananya melihat satu gambar dan mata kirinya melihat gambar yang lain, terbentuklah effek tiga dimensi. Sebagian besar spesial effek yang digunakan pada film-film kontemporer diciptakan sebelum Perang Dunia II (1939-1945). Contohnya, dalam film bisu The Thief of Bagdad (1924), Douglas Fairbanks tampil melawan monster raksasa melalui sebuah tekhnik yang menyertakan pemfilman dua adegan yang berbeda, kemudian dikombinasikan dalam proses printing (pencetakan). Separuh dari salah satu gambar negativnya di-ekspos dalam proses printing (baca: separuh dengan Fairbanks), sementara yang lain ditutupi. Lalu, yang ditutupi, gambar yang tak terskspos separuh di-ekspos pada negativ bersama monster. Hasilnya adalah gambar tunggal sempurna yang terbentuk dari dua adegan yang berbeda. Tehknik pemisahan adegan yang sama ini menjadikan Kevin Kline berduaan bersama presiden Amerika Serikat dan kembarannya dalam Dave (1993). Contoh yang lain dari kekuatan canggih dari tekhnik-tekhnik terdahulu adalah stop-motion photography (foto gambar berhenti). Film Kingkong yang pertama (1933) menggunakan tekhnik ini, dimana patung kinkong difilmkan berulang-ulang per segmen kemudian digerakan, sehingga ketika film diproyeksikan pada kecepatan normal, King Kong terlihat bergerak. Tekhnik yang sama meng-animasikan patung-patung dalam James and the Giant Peach (1996). Setelah Perang Dunia II ada semacam kemandegan dalam pengembangan dan penggunaan spesial effek. Kemajuan teknis dalam desain dan pembuatan kamera film membuatnya lebih mudah mem-filmkan pada lokasi yang sesungguhnya, dan tren ide cerita film berarah kepada hal-hal yang relistis, hal ini menjadikan berkurangnya penggunaan tipuan/effek pada film. Kemudian pada tahun 1968 dalam film 2001: A Space Odyssey, dimana astronot tampil melayang-layang tanpa berat di ruang angkasa, hal ini mengawali ketertarikan baru pada spesial effek. Star Wars (1977) merevolusikan cara spesial effek dibuat dan membuktikan bahwa spesial effek bisa menjadi sebuah tambang emas box-office yang potensial. George lucas yang menyutradarai Star Wars, membangun sendiri studio spesial effeknya, Industrial Light & Magic yang menjadi inovator utama dan bertanggung jawab atas serangkaian tekhnik spesial affek yang innovativ. Dalam membuat Star Wars, lucas menggunakan komputer untuk mengkontrol gerakan kamera. Dalam tekhnik yang disebut motion-control cinematography (kontrol gerak dalam pembuatan sinema) ini, kontrol komputer yang presisi (tepat), memungkinkan kamera men-syut langsung adegan dalam satu studio kemudian menggerakan pada kecepatan yang sama sebagaimana kamera menyorot sebuah model pada studio kedua yang melayani sebagai background pada adegan langsung. Kedua shoot ini dapat dikombinasikan nantinya dengan yakin bahwa gerakan-gerakan kamera akan dikenali dan akan sesusai sebelumnya. Motion-control cinematography juga memungkinkan kamera mereplikasi rangkaian yang sama dari shoot secara tepat sambil memfilmkan objek yang sama. Dengan masing-masing cara yang dibuat kamera, elemen yang berbeda-beda dapat ditambahkan. Contohnya, dalam Star Wars mesin yang berbeda menyembur dan sinar yang menyorot muncul pada kapal ruang angkasa pada proses pemfilmanyang berturut-turut. Akumulasi dari detail yang teramat sangat ini menghasilkan objek yang terlihat konpleks dan realistis. Sebagian besar pesawat ruang angkasa dan objek lainnya dalam Star Wars adalah miniatur, meniru tekhnik yang lain dari sinema-sinema terdahulu. Para pembuat film telah menggunakan miniatur sejak lama untuk melakukan adegan-adegan skala besar seperti runtuhnya sebuah bangunan atau tenggelamnya sebuah kapal, adegan-adegan yang akan menelan biaya tinggi dan tidak mungkin dilakukan. Penambahan suara yang sesuai untuk skala itu menyempurnakan ilusinya. Para pembuat film merancang banyak spesial effek yang laindalam sebuah film. Ladang, produksi film mengharuskan seorang aktor tampil pada sustu tempat yang sulit untuk difilmkan, atau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, seperti terbang. Dalam kasus ini, pembuat film menggunakan apa yang disebut proses layar biru, memfilmkan aktor di depan layar yang dicat atau diwarnai agar serupa dengan warna langit. Ketika proses printingnya pembuat film menukar warna latar biru ini dengan gambar yang berbeda, hal ini membuat tipuan bahwa sang aktor bergerak melalui setting tersebut. Dalam Superman (1978) dan sequel (kelanjutan) nya, layar biru digunakan untuk menggambarkan sang jagoan tersebut terbang. Sang aktor, Christopher Reeve, difilmkan dengan tangannya yang menjangkau layar biru di studio, berakting sebagaimana terbang. Setelah gambar kota (dari sudut pandang pesawat yang terbang rendah) ditukar dengan latar biru, superman tampil terbang melintasi gedung-gedung yang tinggi. Cara lain untuk menempatkan aktor dalam setting yang tidak sesungguhnya nyata adalah through matte photography. Tekhnik ini meliputi suatu lukisan realistik dengan sebuah bidang yang dihitamkan. Lukisan tersebut kemudian difilmkan secara terpisah dan sebuah kelanjutan adegan yang secara cermat telah diframekan agar cocok dengan sudut pandang dan skala bidang hitam tersebut disisipkan. Kombinasi kedua gambar itu membuat tipuan bahwa adegan terjadi pada kondisi dalam lukisan tersebut. Lukisan yang digunakan dalam matte photography beraneka ragam ukurannya, dan kebanyakan para ahli sekarang menggunakan komputer untuk menciptakan lukisan tersebut. Salah satu penggunaan matte photography ada pada adegan final Raiders of the Lost Ark (1981). Adegan pada film tersebut menunjukan pekerja mendorong sebuah peti melalui sebuah gudang besar yang terisi benda-benda milik umum. Kecuali pekerja dan jalan yang diambil, gudang tersebut sebenarnya ialah lukisan. Pada akhir abad ke-20, tekhnik-tekhnk yang digunakan dalam effek memasuki era baru, yaitu digitizasi. Dalam digitisasi, suara dan gambar disimpan dalam arsip-arsip elektronik (sekarang disebut file) dan ditampilkan lalu diedit menggunakan komputer. Membuat sebuah versi digital pada gambar yang memperkirakan tampilan film 35-milimeter, komputer musti memecah masing-masing frame menjadi jutaan pixels (elemen gambar). Komputer menentukan satu nomor nilai untuk masing-masing pixel yang sesuai dengan satu warna dan level terangnya. Dengan menomori-ulang pixel-pixel dimana warna berubah, gambar bisa diubah. Gambar yang terdigitisasi memungkinkan untuk dimanipulasi ke dalam berbagi cara, dan komputer sendiri dapat juga digunakan untuk menciptakan gambar tersebut. Sebagai misal dari gambar yang dikombinasikan ialah adegan dari Jurassic Park (1993) dimana dinosaurus ciptaan komputer terlihat mengejar dan melompati seorang laki-laki dan dua orang anak. Dalam Forrest Gump (1994) tokoh utama tampak bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah seperti Presiden John F. Kennedy dan penyani Elvis Presley. Hal ini dilakukan dengan menggabungkan secara digital gambar adegan aktor utama Tom Hnks dengan film Kennedy, Presley dan tokoh-tokoh lain. Tekhnik ciptaan komputer lainnya yang populer disebut morphing, kependekan dari metamorphosis on film. Morphing, merupakan visual effek yang ada pada Terminator 2: Judgment Day (1991), meliputi translasi (perpindahan wujud) secara digital suatu objek, atau tokoh, ke objekyang lain. Effek tersebut adalah dari satu objek atau tokoh dengan jelas bisa dilihat dan secara mencair berubah ke objek yang lain. Kemajuan dalam teknologi digitisasi memungkinkan para pembuat film merubah karya mereka terdahulu dengan cara yang dahulu tidak mungkin dilakukan. Pada akhir tahun 1990-an, dengan mendigitisasi Star Wars dan sequelnya (kelanjutannya), George Lucas telah mungkin membubuhkan adegan-adegan dan makhluk-makhluk baru, dan mempercanggih spesial effek pada film oroginalnya. Film-film yang dimaster ulangkan secara digital kemudian dirilis. Film tahun 1997 Titanic menggunakan gambar-gambar, miniatur dan spesial effek aksi langsung ciptaan komputer lebih meluas dibanding film-film terdahulu manapun. Tidak seperti spesial effek pada film-film terdahulu, kebanyakan effek Titanic tidak membuat film tersebut menjadi samar. Bahkan, effek-effek itu diblender ke dalam tekstur film. Hasilnya adalah begitu effektif hampir masuk akal mengatakan banyaknya adegan-adegan di kapal atau di dalam air difilmkan di studio, tidak di lokasi sebenarnya, dan banyaknya gambar, termasuk sekumpulan manusia di kapal sebenarnya adalah kreasi komputer murni.
MEMUTAR FILM PADA PROYEKTOR

Setelah movie dishot, diproses, diedit, dipercantik dengan spesial effek, dilakukan mixing dan diprint, maka film telah siap untuk dipertontonkan. Film pada umumnya diputar di bioskop, pada sebuah proyektor di bagian belakang bioskop yang menyorotkan sinar melalui kepala para penonton ke arah layar di bagian depan bioskop. Ketika film berputar melalui proyektor, sinar menyorot melewati film dan memproyeksikan gambar ke depan. Elemen-elemen pokok dari sebuah proyektor adalah sebuah sumber sinar dengan sebuah lensa, sebuah pintu lewat film yang mana film melewatinya dari rol proyeksi, sebuah gigi jentera yang mendorong film ke bawah satu frame setiap satu waktu, sebuah penutup yangmembuka dan menutup ketika film melaluinya, sebuah lensa proyeksi, gigi jentera lewat lainnya di mana film berlalu untuk menaikan rol, dan sebuah head suara optik yang membaca track suara. Ketika film berputar melalui proyektor, masing-masing image ditampilkan sendiri-sendiri pada layar, dan penutup distel agar membuka ketika gambar berada pada sisi depan sumber sinar, dan menutup ketika film tertayangkan. Proses itu terjadi 24 kali per detik. Penutup juga memiliki helai kedua yng menghalangi sinar sekali sementara msing-masing gambar ditayangkan. Hal ini menghasilkan 48 hentakan sinar perdetik dari 24. (membuat aksi hentakan lebih terang mengurangi berkerlipnya sinar yang penonton memperhatikan.) karena mata manusia tidak berfungsi cepat mengenali masing-masing gambar yang terpisah-terpisah, gambar-gambar pada layar terkombinasi menjadi satu, dan foto yang menampilkan posisi berrangkaian seseorang atau seuah bendayang bergerak menciptkan tipuan gambar yang bergerak secara terus menerus. Trak suara direkam langsung pada film yang teolah tercetak. Proyektor menyorotkan sebuah sinar melalui track optik, yang meiliki kepadatan yang bervariasi – tebal atau tipisnya tergantung kuatnya suara asli. Proyeltor mengkonversi sinar yang melewati trak optik tersebut melalui sebuah sinyal elektronik, melambat atau menguat, terganung ketebalan trak optik. Sinyal elektronik lalu berjalan ke speaker bioskop yang mengkonversinya ke dalam energi mekanik kemudain meghasilkan gelombang suara yang didengar penonton. Hingga awal 1950-an, movie secara umum diproyeksikan ke layar dengan sebuah aspect ratio (rasio lebar dan tinggi) 4 ke 3 dari rasio layar televisi standar. Tapi kemudian bermacam takhnik dikembangkan untuk memproyesikan movie pada rasio layar yang berbeda-beda. Sinerama merupakan proses layar lebar pertama yang diperkenalkan di bioskop pada di tahun 1952. tiga kamera 35-milimeter dan tiga proyektor digunakan untuk merekam dan memproyeksikan gambar tunggal ke arah layar lebar yang berkelok, dan hasilnya gambar yang terkombinasikan bersama untuk menghasilkan tipuan gambar yang luas. Pross layar lebar lainnya segera menyusul. CinemaScope menggunakan lensa khusus yang dinamakan anarmopik yang mengkompress gambar lebar menjadi film standar 35-milimeter, dan sebuah proyektor yang men-dekompress gambar dan membuatnya dua kali seluas layar gambar standar. VistaVision menggunakan effek layar lebar dengan memakai film 35-milimeter yang ditranspor dari kanan ke kiri secara horisontal. Hal ini memungkinkan gambar layar lebar difotografikan tanpa sebuah lensa anarmopik ke film 35-milimeter. Pada tahun 1960-an Panavision menjadi standar proses layar lebar, menggunakan lensa anarmopik untuk mendapatkan sapek rasio 2.35 hingga 1. saat ini, sebagian besar film-film Amerika memiliki rasio 1.85 hingga 1, sementara sebagian besar film-film eropa memiliki aspek rasio 1.66 hingga 1. untuk film 70-milimeter, aspek rasionya 2.2 hingga 1. Ketika film layar lebar dikemas untuk ditampilkan di aspek rasio televisi yang 4 hingga 3, sisi gambar biasanya tidak kelihatan. Untuk manampilkan layar lebar secara utuh pada video rumahan, proses transfernya harus di letterbox. proses letterbox, yakni menetralkan strip-strip hitam pada atas dan bawah layar televisi, merubah aspeknya untuk menggantikan sebagaimanan tampilan film asli pada bioskop.
DISTRIBUSI DAN PENJUALAN FILM

Setelah film diproduksi, film harus didistribusikan ke lembaga film dan lembaga per-bioskop-an. Hal ini diselesaikan melalaui distributor yang menyewa movie dari produser atau rumah perusahaan pemroduksinya. Mereka lalu membayar pembuatan film cetaknya, menata penampilannya sehingga bioskop mau menawar hak cipta untuk memutarnya; mempromosikan dan mengiklankan, mendistribusikan kopinya ke bioskop-bioskop; mengatur pemunculnya di teve kabel atau teve siaran; mengatur distribusi versi videokaset, laserdisc, dan dvdnya ke tempat-tempat penjualan, mengawasi pemasukan dan pengeluaran dari seluruh aspek distribusi film. Distributor menagih bioskop pada akhir perjanjian, menerima laporan jumlah penonton. Kadang, film tidak disewakan, tapi di-subkontrak-kan oleh produser ke distributor. Produser kemudian mengupah pekerjaan itu dengan memberi distributor prosentasi hasil yang berkisar 10 hingga 50 % pendapatan film. Selain itu, distributor memotong dari biaya saham net profit produser untuk biaya pencetakan, iklan dan promosi film. Asosiasi Film Amerika (MPAA) memberi rating film untuk membimbing penonton tentang jenis materi film yang mungkin untuk kontrol. Ada lima rating. “G” menandakan bahwa film tersebut sesuai untuk semua umur. “PG” berarti beberapa materi film tersebut mungkin tidak cocok untuk anak-anak. “PG-13” artinya beberapa bagian film tidak sesuai untuk anak-anak di bawah 13 tahun. “R” bermakna bahwa siapa saja yang berumur di bawah tujuh belas tahun mesti ditemani orang tua atau yang lebih dewasa. “NC-17” artinya tak seorangpun yang berumur di bawah 17 tahun diizinkan menontonnya. Banyak film, khususnya film-film bertemakan anak-anak, meliputi penjualan tambahan di antara film itu sendiri, produser film menjual hak ciptanya –yang disebut ancillary rights—untuk menggunakan tokoh film atau gambarnya untuk berbagai keperluan komersial, mainan, game, dan busana yang tampil bersama tokoh atau gambar pada film tersebut. Pada beberapa film, lgu yangmenyertai musik pada sound trak, diproduksi ulang dan di lempar ke pasaran. Diterjemahkan oleh: masbadar untuk kepentingan edukasi multimedia.

Kaum Miskin
Anak Jalanan

Posts: 15
Join date: 16.02.13

Lihat profil user http://porodisa.forumc.net

Kembali Ke Atas Go down

Canon Eos 5D, termasuk kamera standart layar lebar

Post by Kaum Miskin on Thu Feb 28, 2013 12:59 pm


Kaum Miskin
Anak Jalanan

Posts: 15
Join date: 16.02.13

Lihat profil user http://porodisa.forumc.net

Kembali Ke Atas Go down

Re: Proses Pembuatan Film Layar Lebar

Post by Kaum Miskin on Thu Feb 28, 2013 2:26 pm

Kini membuat Film Layar Lebar semakin mudah.

Dengan lajunya perkembangan technology digital cinematography camera dan post production ber imbas juga ke dunia industri kreatif di Indonesia, dulu bujet pembuatan sebuah layar lebar sangat tinggi untuk ukuran Indonesia sementara return modal producer tergantung jumlah penonton film yang membayar dan menonton film produksinya.

Bujet produksi yang besar karena raw material film layar lebar mengggunakan celluloid , memang hasil gambar memggunakan celluloid sangat bagus dan beberapa waktu yang lalu belum bisa di capai oleh camera digital atau digital cinematography.



Dengan lajunya perkembangan digital cinematography, kualitas gambar menjadi semakin baik dan mendekati hasil celluloid seperti yang di hasilkan kamera RED EPIC 5 K atau dari produk ARRI, ARRI ALEXA dan cameraCANON C 300 yang akan masuk ke Indonesia bulan april ini (PL) kalau yang EF mounting sudah ada beberapa rental yang memiliki dan siap dipergunakan secara kreatif untuk memenuhi pasar film di Indonesia.


Disamping menggunakan kamera yang saya sebutkan diatas, ada beberapa camera DSLR yang bisa dipergunakan untuk membuat film layar lebar, seperti kamera Canon 5D mark II camera yang sangat popular untuk pembuatan video clip bahkan TVC atau iklan TV, harga kamera DSLR sangat terjangkau untuk dimiliki siapapun.

Tinggal sekarang bagamana cara membuat film layar lebar dengan benar , dalam arti mengikuti kaidah cinematografi, seperti lighting ratio, camera work, camera movement, type of shot dan lainnya, ini perlu pembelajaran ….

Kaum Miskin
Anak Jalanan

Posts: 15
Join date: 16.02.13

Lihat profil user http://porodisa.forumc.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik